// ini script tambahan // batas akhir script tambahan Tujuan Utama: Riya (suka pamer) dan Sum'ah
Kebijakan Blog TU ~~ Disclaimer Blog TU


Terimakasih telah mengunjungi blog Tujuan Utama. Untuk Saran dan ide, kirim ke : blog.tujuanutama@gmail.com --Baca dan ikuti artikel - artikel seputar Islam & Organisasi. Semoga bermanfaat"
Quote today : Jiwa-jiwa yang patuh pada Tuhannya, adalah jiwa-jiwa yang selalu mengakui bahwa apapun yang telah dilakukan adalah atas kehendak Nya, bukan karena kemampuan sendiri
SELAMAT DATANG DI BLOG TUJUAN UTAMA


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Kepada seluruh pengunjung / pembaca, mohon berikan "vote" teman-teman semua JIKA artikel pada blog memang bermanfaat, sehingga saya dapat merespon artikel apa yang paling disukai.

Selaku admin blog TU, saya memohon maaf kepada semua pengunjung / pembaca blog TU jika pada isi / konten blog ini terdapat ungkapan yang menyinggung atau menghina pihak tertentu.

UNTUK COPY PASTE POSTING TERTENTU, SAMPAIKAN MELALUI KOTAK CHATTING DI SEBELAH KIRI DARI BLOG INI

Riya (suka pamer) dan Sum'ah

Riya' (suka pamer), yaitu tindakan memperlihatkan, memamerkan, atau ingin memperlihatkan yang tidak sama dengan niatnya. Dalam pengertian lainnya adalah berbuat kebaikan, amal ibadah kepada orang lain, bukan karena Allah melainkan karena ingin mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain. Sedangkan perbuatan menceritakan tentang ibadah dan amal salehnya kepada orang lain disebut sum'ah (ingin didengar).

Riya' dan sum'ah merupakan perbuatan tercela dan merupakan syirik kecil yang hukumnya haram. Riya' sebagai salah satu sifat orang munafik yang seharusnya dijauhi oleh orang mukmin.

Dalam QS. AnNisa' [4] 142 disebutkan : "Sesungguhnya orang-rang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya' ( dengan shalat itu ) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka ingat kepada Allah kecuali sedikit sekali."

Dalam keterangan lain pada hadits, Rasulullah bercerita, "Di hari kiamat nanti ada orang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke neraka. Lalu orang itu melakukan protes, 'Wahai Tuhanku, aku ini telah mati syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?' Allah menjawab, 'Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai pemberani. Dan apabila pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari perjuanganmu'."

Orang yang berbuat baik atau beribadah dengan niat bukan karena Allah SWT, dalam agama disebut riya'. Sifat riya' ini terkesan ringan dan sepele. Padahal akibatnya sangat fatal, dimana seluruh amal kebaikan akan hilang dengan cepat, bagaikan air hujan yang menghilangkan debu di muka bumi.

Allah SWT berfirman QS. Al-Furqan [25] : 23 "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan."

Abu Hurairah RA juga pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Banyak orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh sesuatu dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga, dan banyak pula orang yang melakukan shalat malam yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali tidak tidur semalaman."

Riya' ini benar-benar penyakit hati yang sangat berbahaya, hingga ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, "Apakah keselamatan itu?" Jawab Rasulullah, "Apabila kamu tidak menipu Allah." Orang tersebut bertanya lagi, "Bagaimana menipu Allah itu?" Rasulullah menjawab, "Apabila kamu melakukan suatu amal yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepadamu, maka kamu menghendaki amal itu untuk selain Allah."

Secara tegas Rasulullah pernah bersabda, "Takutlah kamu kepada syirik kecil." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan syirik kecil?" Rasulullah berkata, "Yaitu sifat riya. Kelak di hari pembalasan, Allah mengatakan kepada mereka yang memiliki sifat riya, 'pergilah kalian kepada mereka, di mana kalian pernah memperlihatkan amal kalian kepada mereka semasa di dunia. Lihatlah apakah kalian memperoleh imbalan pahala dari mereka'

Sifat riya' dibagi dalam 2 golongan, yaitu :

Riya' dalam niat, Riya' ini adalah perbuatan yang dilakukan dengan niat selain Allah. Hal ini sangat tipis untuk dibedakan. Ketika seorang bekerja dengan niat untuk mendapatkan uang semata. Padahal aktivitas apapun yang tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku adalah termasuk ibadah dengan syarat karena Allah SWT. Untuk itu butuh pemahaman yang baik melalui diskusi-diskusi dengan para ahli agama mengenai BAGAIMANA BERNIAT YANG BAIK SESUAI KETENTUAN ALLAH SWT.

Dalam hadits Rasulullah s.aw. dijelaskan : "aku mendengar Umar bin al Khaththab berkata di atas mimbar, 'aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : "Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan …" (H.R. Bukhari Muslim)

Riya dalam perbuatan, berawal niat, lalu melakukan sesuatu di depan orang lain, untuk mendapat pujian, perhatian, dan sanjungan.

Beberapa dalil mengenai riya' dalam perbuatan antara lain :

"Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya". (Q.S. Al Ma'un: 4-6)

Bersedekah didasari riya laksana riya' batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih. (Q.S. Al Baqarah (2) : 264)

Allah melarang pergi berperang didasari riya' dan menghalangi (orang) lain menempuh jalan Allah (sabilillah). (Q.S. Al Anfaal (8) : 47)

Dari Mahmud Ibnu Labid r.a. bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpamu ialah syirik kecil: yaitu riya." Riwayat Ahmad dengan sanad hasan.

Sebagai penutup, mari kita simak mengenai tanda-tanda orang yang melakukan perbuatan riya' :

"Dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib. Kata beliau, "Orang yang riya itu memiliki tiga ciri, yaitu malas beramal ketika sendirian dangiat beramal ketika berada di tengah-tengah orang ramai, menambah amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi amaliyahnya ketika dirinya dicela."

Mudah-mudahan melalui penjelasan ini dapat memberi peringatan bagi kita semua khususnya penulis dari artikel ini.


Wasssalam

No comments:

Post a Comment

Supported by :

Mediora